Kali ini aku bakaan nulis tentang ketidak-PD anku a.k.a minder. Ya. Jadi kisahnya begini. Udah pernah kan aku bahas tentang usaha aku buat memulai bisnis fashion di pos sebelumnya yang ini. Punya bisnis fashion merupakan salah satu impian aku selain menjadi dosen. Di post sebelumnya itu aku nulis gimana tentang betapa ngga PD nya aku jualan. Aku takut kalo orang ngga puas dengan apa yang aku jual. Ceritanya kemarin itu ada temen aku yang pesen baju ke aku. Terus aku pesenin lah. Setelah aku berkali-kali nyobain beberapa supplier baju adan aku kurang puas dengan entah bahannya, atau jahitannya, atau ada juga ukurannya (pokoknya udah puluhan supplier aku coba dan belum cocok) akhirnya aku menemukan yang menurut aku cukup recommended. Harganya relatif terjangkau, bahannya standar si, tapi jahitannya rapi banget. Terus nih temenku ada yang tertarik tuh buat beli. Pas aku beliin online, ternyata ukurannya ngga sesuai deskripsi. Meskipun ukurannya S, yang harusnya panjangnya 130 cm itu panjangnya lebih sekitar 135 cm an. Duh gimana dong? Pikirku. Nanti kalo temen aku komplain gimana, terus kalo dia nyesel beli gamis aku gimana? pokoknya berbagai kemungkinan muncul di pikiran aku. Ah, yaudah coba kirim dulu lah, nanti kalo komplain, aku benerin aja ke penjahit deket rumah sekalian benerin baju aku. Pikirku. Eh pas barang sampe, ternyata dia suka sama gamis aku, bahkan nawarin buat jadi reseller selain dia pake sendiri. Intinya si, jangan minder duluan. lakuin aja dulu. Kalo hasilnya ngga sesuai ekspektasi mah buat pembelajaran ada. Dengan gitu kan kita jadi tau dan buat pembelajaran kita juga kepedapannya.Aku si belajar dari thomas alfa edison, kalo sebenernya ngga ada yang gagal. Gagal itu adalah saat kita memutuskan buat nyerah. Oke?
DULU
kalo aku ditanya ini, aku bakalan jawab “ Wanita karirlah, ngapain udah
kuliah tinggi-tinggi kalo ujung-ujungnya cuma di rumah.” Tapi kalo sekarang aku
ngga sepenuhnya setuju sama pernyataan itu. Pertama, tingginya pendidikan bukan
tolak ukur keberhasilan karir seseorang. Banyak yang lulusan SMP, SMA/SMK namun
memiliki karir yang lebih bagus dibandingkan lulusan S1 atau S2. Kayak salah
satu menteri kita yang meskipun lulusan SMP tapi kompeten dalam bidangnya. Sometimes pendidikan support karir seseorang namun ngga jarang
orang justru mengambil karir yang berbeda dengan bidang pendidikan yang
diambilnya. Kedua, kuliah tinggi itu ngga akan percuma karena saat kuliah
itulah kita mendapatkan banyak pengalaman, ilmu, dan pendewasaan diri. Punya
banyak ilmu dan pengalaman itu ngga akan rugi. Kan Allah akan meninggikan
derajat orang-orang yang berilmu.
Bisa
dibilang dulu aku belum se-open
sekarang. Ketemu sama banyak orang, mendengarkan pemikiran-pemikiran mereka tentang
kenapa mereka memilih profesi yang mereka geluti, membuat aku sadar kalo jadi
ibu rumah tangga maupun wanita karir itu ngga ada salahnya. Iya lah siapa si yang
mau nilai bener atau salah? Wkwk. Dua-duanya sama-sama bener, sama-sama baik.
Setiap orang memiliki alasan dan kapasitas yang berbeda-beda. Aku pernah ikut
suatu kajian yang menurut aku unik. Dalam
kajian itu panitia mendatangkan narasumber dua orang ibu yang sama-sama memiliki
pendidikan yang tinggi (kalo ngga salah yang satunya lulusan S3 terus satunya lagi masih
menempuh PhD program) tapi mereka memilih jalan yang beda. Satunya walopun udah
S3 tapi ibu itu milih jadi ibu rumah tangga. Membangun peradaban melalui
keluarga. Satunya lagi memilih sebagai wanita karir, dengan perjuangannya
bersama suami berbagi tugas mengurus anak dan pekerjaan rumah. Semua pilihan
pasti ada konsekuensi. Semua pilihan baik, yang ngga baik adalah saat kita
memilih tapi kita ngga siap sama konsekuensinya.
Aku
ngga suka saat ada sebuah ungkapan atau status di sosmed dari seorang wanita
karir yang merasa lebih dengan merendahkan status ibu rumah tangga, atau
sebaliknya ibu rumah tangga yang merasa paling benar dengan pilihannya dan
menganggap salah wanita karir dengan dalih menelantarkan anak dan dalil-dalil
agama. Semua orang punya condition
yang beda-beda, struggle-nya beda,
dan kapasitasnya juga beda-beda. Who are
you to judge? Keren si liat video ini, tentang gimana ibu rumah tangga dan ibu karir punya kisah perjuangan mereka sendiri-sendiri.
Jadi ibu rumah tangga atau wanita karir ngga perlu diperdebatkan, ngga perlu dinyinyirin, tapi lebih penting saling mendukung dan memfasilitasi satu sama lain untuk sama-sama mengejar impian mereka. Nggak selamanya anak yang ibunya wanita karir jadi anak ngga bener. Begitu juga sebaliknya, ngga semua anak yang setiap hari ditungguin ibunya jadi keren. Mendidik itu dipengaruhi banyak faktor. Penting tugas kita sebagai orang tua memastikan lingkungan yang baik buat anak. Intinya kembali lagi ke gimana usaha dan apa yang ditanam orang tuanya.
Jadi ibu rumah tangga atau wanita karir ngga perlu diperdebatkan, ngga perlu dinyinyirin, tapi lebih penting saling mendukung dan memfasilitasi satu sama lain untuk sama-sama mengejar impian mereka. Nggak selamanya anak yang ibunya wanita karir jadi anak ngga bener. Begitu juga sebaliknya, ngga semua anak yang setiap hari ditungguin ibunya jadi keren. Mendidik itu dipengaruhi banyak faktor. Penting tugas kita sebagai orang tua memastikan lingkungan yang baik buat anak. Intinya kembali lagi ke gimana usaha dan apa yang ditanam orang tuanya.
Aku
dan saudara-saudara kandungku waktu kecil dirawat tetangga, tapi aku ngga
ngerasa tuh kurang perhatian ortu, karena bapak ibuku kerja sama buat tetep
berikan kasih sayang mereka ke aku. Bahkan aku sangat bangga dengan profesi
ibuku. Sewaktu kecil, aku akan malu kalo aku ngga dapet nilai yang bagus atau
peringkat di kelas karena orang tua aku guru. Aku juga terinspirasi dengan
kerja keras orang tuaku, perjalanan mereka menyemangatiku buat kerja keras dan
jangan nyerah. Dengan ibuku kerja, aku juga merasa perekonomian keluargaku
menjadi lebih stabil, bahkan aku bisa mendapatkan pendidikan yang baik sampe S2
full biaya dari ortu.
Begitu
pula aku denger cerita tentang seorang ibu rumah tangga yang bener-bener
mendidik anaknya sendiri dengan homeschooling. Hasilnya spektakuler luar biasa. Ia bisa mendidik dan mengarahkan anak-anaknya
sesuai passion mereka. Mungkin next time
kali ya aku bahas kedua sosok ibu yang menurut aku bisa jadi panutan buat para
ibu-ibu. Mau jadi ibu rumah tangga atau wanita karir? Tentukan, diskusikan sama
suami, dan jalani konsekuensinya sama-sama.
Bukan suatu hal yang mudah buat orang tua
melepaskan anaknya. Ketika akad nikah, orang tua sudah saatnya melepaskan
seorang anak untuk dibimbing orang lain. Aku tau itu bukan hal yang mudah.
Selama 23 tahun orang tuaku merawat, membimbing, dan membesarkanku. Mendengar
cerita-cerita nya, membesarkanku bukanlah hal yang mudah. Dari mulai aku yang
terlahir prematur 7 bulan, rumah sakit yang banjir selutut saat melahirkanku,
dan tentang badanku yang ringkih sering sakit-sakitan hingga aku kelas 1 SD.
Aku ingat saat aku masih TK. Ibu selalu menungguku di depan kelas, memastikan
aku baik-baik saja. Aku tak bisa seperti anak-anak lainnya. Selain karena
usiaku yang jauh lebih muda dibandingkan dengan teman-temanku, aku juga sering
tidak berangkat sekolah karena sakit. Aku jarang sekali mengikuti kegiatan
olahraga atau jalan sehat. Saat tamasya pun aku ngga ikut karena sakit.
Pokoknya dulu aku selalu iri dengan teman-temanku yang bisa belajar dan bermain
bebas.
Dapat dibilang aku anak yang sangat
semangat buat belajar. Dulu, aku anak yang ngga betahan di rumah. Di usiaku
yang masih 4 tahun aku selalu merengek minta sekolah TK karena teman-teman di
sekitar rumahku sudah masuk TK tahun itu. Saat ibuku meminta guruku untuk
membuatku tinggal di kelas TK lagi dan tidak mendaftarkanku di SD, guru TK ku
justru menyarankan untuk mendaftarkanku ke SD. Menurut beliau aku bisa
mengikuti pembelajaran seperti anak-anak lainnya tanpa kesulitan. Meskipun
secara akademis aku bisa mengikuti, tapi aku masih gampang banget di bohongi.
lol. Fyi dulu aku sering di kasih uang saku plus uang buat nabung sama ibu. Ada
temenku yang suka bilang uangnya buat barengan nabungnya di dia. Eh akunya mau
aja dan uangnya dipake jajan mereka. Ngga ada hubungannya sih.. wkwk.. toh
akhirnya orang tuaku memutuskan buat daftarin aku ke SD. Yeay..
Di SD emang sakitku ngga sesering waktu
TK. Sampe sekarang. aku ngga tau dulu itu sakit apa. Sejak usia tujuh bulan aku
sudah ngerasain sakitnya di Infus dengan tangan di ganjel biar ngga banyak gerak
(bayik mana tau kalo dia diinfus). Pas udah TK aku emang ngga sampe dirawat di
RS tapi yang aku inget aku ngerasain bolak balik ke RS dan gonta-ganti tempat
pengobatan. Di manapun orang tuaku coba buat kesembuhanku. Aku tau betapa besar
usaha orang tuaku untuk membuatku sembuh. Aku ingat di sepertiga malam setelah
sholat dan berdoa, orang tuaku mengelus ubun-ubun dan pusarku. Membacakan doa
dan meniupnya. Itu adalah ritual yang dilakukan mereka setiap malam. Berdoa
kepada penciptaku, agar aku diberi kesembuhan.
Memasuki masa SD dapat dibilang aku
sembuh. Meskipun pernah sesekali sakit pilek panas saat pancaroba dan kena
cacar pas kelas V SD. Pernah juga disaat ngaji tiba-tiba keluar darah dari
hidungku. Meskipun begitu aku tidak pernah merasa sakit. Aku akan pergi main
dan mandi di sungai, berangkat ngaji setiap hari, dan TPQ setiap Jumat sore.
Dulu aku semangat banget buat ngaji sama sekolah, karena disana aku ketemu
banyak teman-temanku. Orang tuaku merasa sangat bersyukur. Ia tak menyangka
anak yang dulunya sangat ringkih dan dapat dibilang memiliki harapan hidup yang
kecil, kini telah bertumbuh. Mereka sangat bangga kepadaku saat aku bisa
menduduki 10 besar kecamatan di hasil ujianku (dulu belum ada UN SD, semua
mapel diujikan termasuk agama). Beberapa mata pelajaran aku mendapatkan nilai
terbaik di kecamatan. Kepala dinas pendidikan datang saat perpisahanku,
memberikan apresiasi dan menceritakan sepenggal tentang perjalanan akademikku.
Aku merasa sangat senang karena kulihat orang tuaku sangat bahagia dengan
pencapaianku. Berkat bimbingan mereka untuk bangun berdoa dan belajar di
sepertiga malam, akhirnya aku bisa lolos SMP terbaik di kabupatenku. Aku selalu
senang saat aku bisa melakukan hal-hal yang membuat orang tuaku senang.
Sejak SMP aku sudah hidup jauh dari orang
tua. Aku tinggal di pesantren. Meskipun begitu, hampir setiap minggu orang
tuaku menjengukku. Padahal awal dipesantren santri tidak boleh dijenguk ataupun
pulang selama 40 hari, orang tuaku tetap saja diam-diam menemuiku di luar sepulang
sekolah atau bahkan nekat menemuiku di pesantren, karena waktu itu aku tidak
diizinkan untuk membawa alat komunikasi (read HP). Jadi bukan hal yang mudah
buat kita janjian ketemu di luar. Kegiatan di sekolah dan di pesantrenku dapat
dibilang dua-duanya sangat padat. Aku mengaji sehari 4 kali dan harus setoran
hafalan kitab. Belum lagi tugas sekolah yang mengharuskanku sering ke tempat
rental komputer yang terkadang sampai larut malam. Saat ujian sekolah aku
terkadang melanggar waktu yang dianggarkan pesantren untuk pulang ke rumah.
Aselinya kita dijatah pulang sebulan itu 4 hari. Aku sering melanggarnya dan
pulang setiap minggu. Alhasil kadang membersihkan kamar mandi menjadi takziranku saat di pesantren.
Saat SMP aku memang hampir tak pernah
sakit, tapi lagi-lagi Allah menguji kami. Saat ujian semester aku selalu pulang
dan berangkat dari rumah. Aku ngga di pesantren karena aku ingin waktu belajar
dan istirahat lebih banyak. Di pesantren biasanya aku baru selese ngaji antara
jam 10 sampe jam 11 an. Dari habis ashar ngaji sampe menjelang maghrib, sholat
jamaah terus nyambung habis maghrib, sholat, dan habis isya ngaji lagi.
Perjalanan dari rumah ke sekolah aku kurang lebih sejam naik angkutan dua kali.
Biasanya di angkutan aku masih sambil belajar.
Kelas VIII SMP aku mengalami kecelakaan
cukup parah saat angkutanku ditabrak jib dan masuk ke irigasi. Lima tulang
rusukku dan satu tulang dudukku patah. Lagi-lagi orang tuaku di uji dengan rasa
takut kehilangan aku. Sebulan setengah aku ngga berangkat sekolah dan menjalani
perawatan intensif. Aku hanya bisa berbaring selama sebulan, bahkan memiringkan
badanpun tak bisa. Badanku serasa kaku dan pegal. Makan, minum, buang air semua
aku lakukan dengan berbaring. Aku merasa hidup itu kayak roda, muter. Aku baru
saja bahagia saat aku bisa masuk SMP itu dan mendapatkan juara lomba mewakili
SMPku di kabupaten. Aku baru saja mengubah paradigma guru-guruku tentang
daerahku yang selalu mereka sebut-sebut sebagai gudang preman. Ditambah lagi
teman yang dari daerahku waktu itu dipanggil BK karena kasus pemalakan. Aku
baru saja maju ke depan podium saat upacara bersama dengan teman-temanku
lainnya menerima penghargaan. Aku ingat sekali pidato kepala sekolah saat itu
bahwa kita ngga boleh ngejudge orang dari asal daerahnya, karena ngga semua
orang seperti itu. Mungkin akan ada orang yang sibuk mengukir prestasi untuk
mengharumkan citra daerah asalnya. Aku senang. Tapi kini, aku hanya bisa
berbaring dan menangis setiap malam. Terlebih saat guruku mengungkapkan
kemungkinan aku tinggal di kelas. Aku jadi semakin semangat buat sembuh. Aku
ngga mau tinggal kelas.
Kajaiban. Itu yang bisa aku katakan. Saat
dokter yang menanganiku mengatakan bahwa waktu normal penyembuhan tulang itu
100 hari atau bahkan lebih, hanya sebulan aku merasa sudah sembuh, Aku bisa
berjalan tanpa bantuan tongkat dan sebulan setengah aku udah bisa ikut studi
tour ke Jakarta. Naik jetcoaster, ontang-anting, kora-kora dan beberapa wahana
lainnya. Waktu itu aku bandel, meskipun dilarang tapi tetep aja dilakuin. Pas
antri mau naik tornado (di jaman itu tornado jadi wahana paling menantang di
dufan), aku ketahuan guruku dan alhasil aku hanya cukup melihat dari bawah dan
mendengar cerita teman-temanku tentang keseruan naik tornado.
SMA. Dapat dibilang masa SMA aku memiliki
ketahanan tubuh jauh dari rata-rata. Meskipun aku kurang tidur, telat makan,
dan banyak kesibukan aku tak pernah sakit, kecuali waktu itu ketika tubuhku
merengek lemas tak mampu lagi menompang kebiasan burukku. Ngga ingat makan di
tengah kesibukan. Sampe akhirnya aku terserang gejala tifus dan seminggu
dirawat di RS. Pas SMA aku menyibukkan diri ikut banyak organisasi seperti PMR,
PKS, Rohis, Broadcast, sama redaksi Karisma. Belum lagi tekanan di kelas
unggulan yang buat aku minder dan harus belajar lebih kalo ngga mau jadi
peringkat terakhir. Lagi-lagi semua perjuangan yang aku lakukan salah satunya
karena aku ingin buat mereka bahagia dan semangat kerja buat membiayai
sekolahku.
Kuliah. Aku merasa ini puncak gejolak
diriku, saat aku merasa cukup dewasa untuk tidak diatur-atur lagi. Aku bisa menentukan
arah hidupku sendiri. Salah satunya mengenai pilihan jurusan kuliahku. Orang
tuaku ingin agar aku kuliah di PGSD. Padahal aku tak menginginkannya sama
sekali. Jurusan itu tak ada dalam list
cita-citaku. Cita-cita yang sudah aku tuliskan harus aku rearrange lagi. Aku sering menyalahkan mereka tentang jalan yang
aku ambil. Aku sering menangis dan mengurung diri di kamar, menghindari
berbicara dengan orang tuaku. Sampai akhirnya setelah kejadian itu, entah dari
mana awalnya aku justru semakin dekat dengan ibuku. Aku menjadi lebih terbuka
dengannya dan seringkali berdiskusi banyak hal dengannya. Konflik muncul lagi
ketika umurku menginjak 20 an. Mereka mulai mengenalkanku dengan beberapa lelaki
untuk menjadi pendamping hidupku. Tetapi untuk kali ini mereka lebih
membiarkanku memilih pilihanku sendiri yang kini menjadi pendamping dunia
akhiratku, InsyaAllah. “Hidupku adalah milikku, dan aku yang akan menjalani dengannya
untuk mungkin separuh atau lebih hidupku” itulah salah satu alasan mengapa
orang tuaku membiarkanku memilih pendamping hidupku. Aku menikah tepat setelah
aku lulus S2. Tepatnya 10 hari setelah aku dinyatakan lulus sidang skripsi.
Dari habis lulus SD aku udah hidup jauh dari ortu, nyambung sampai kuliah aku
masih hidup jauh dari ortu. Kini sampai lulus kuliah pun aku hidup menjauh lagi
untuk mendampingi suami. Waktu berlalu terlalu sangat cepat. Aku berharap aku
selalu mendapati mereka dalam keadaan sehat. Terima kasih Bapak Ibu, maafkan
aku yang selalu pergi dan belum bisa membalas kebaikan kalian.
Beberapa hari yang lalu, aku ikut sebuah acara camp di Bogor (it's not camp actually what you think. no tent, no bonfire, no guitar, no truth and dare). Acara camp ini di hotel Bahtera Pelni. Wuih apa spesialnya camp di hotel? It's so special! bukan cuma senang-senang aja tapi juga belajar banyak. Salah satunya belajar ilmu Paradox of Candy. Apa sih paradox of candy?
Pembicara mengibaratkan. Jika ia mempunyai permen tanpa terbungkus di sakunya. Kemudian ia tawarkan, apakah kita ada yang mau mengambil dan memakannya? Tentu kita ngga mau kan? Siapa sih yang mau makan permen yang udah ngga berbungkus di masukin saku pula. Kan udah ngga bersih, ngga higienis. That's some reasons I've heard.
Pembicara kemudian mengeluarkan sebuah permen yang berbungkus rapi dari saku yang lain. Ia kemudian menawarkan kita untuk memilih permen yang berbungkus atau yang tanpa bungkus. Tentu kita bakalan milih yang berbungkus rapi kan ya? Kenapa? Bukannya yang kita butuhkan permennya. Toh saat kita makan, kita hanya makan permen dan bungkusnya dibuang. Bukannya kita dimudahkan ngga usah buang-buang tenaga buat ngeluarin permen dari bungkusnya?
Begitu juga saat kita belanja di online shop. Bisa jadi kita akan marah dengan si pengirim jika barang yang kita beli diantar tanpa ada kemasan. Namun kita akan merasa puas jika barang kita dikirim dengan packaging yang rapi plus free bubble warp. Walaupun nantinya kardus, plastik, atau bubble warp kemasan akan kita buang.
Why? Kita mau permen tapi ngga mau bungkusnya. Namun kita juga ngga mau nerima permen yang ngga berbungkus. Begitu juga paketan yang ngga ada bungkusnya kita ngga mau terima. Maunya paketan yang dibungkus rapat dan rapi. Kalau ngga dibungkus katanya ngga layak, ngga sopan, ngga rapi, atau isinya ngga terjamin kualitasnya (and other reasons maybe).
Jadi kalau mau permen atau paketan lebih suka yang ada bungkusnya kan?
Begitu juga Allah saat mengirimkan rizki atau kenikmatan ke kita. Tentunya Allah pengen kasih ke kita secara spesial. Terbungkus rapi agar lebih indah, lebih nikmat, dan lebih membuat kita penasaran dengan isinya. Terbungkus dengan apa? Tentunya terbungkus dengan sesuatu yang terkadang kita rasa tidak membutuhkannya atau sesuatu yang tidak kita sukai. Seperti cobaan, persoalan hidup, dankesulitan, tantangan (anggap aja kesulitan sebagai tantangan, karena sesuatu ngga ada yang sulit).
Pembicara kemudian mengeluarkan sebuah permen yang berbungkus rapi dari saku yang lain. Ia kemudian menawarkan kita untuk memilih permen yang berbungkus atau yang tanpa bungkus. Tentu kita bakalan milih yang berbungkus rapi kan ya? Kenapa? Bukannya yang kita butuhkan permennya. Toh saat kita makan, kita hanya makan permen dan bungkusnya dibuang. Bukannya kita dimudahkan ngga usah buang-buang tenaga buat ngeluarin permen dari bungkusnya?
Begitu juga saat kita belanja di online shop. Bisa jadi kita akan marah dengan si pengirim jika barang yang kita beli diantar tanpa ada kemasan. Namun kita akan merasa puas jika barang kita dikirim dengan packaging yang rapi plus free bubble warp. Walaupun nantinya kardus, plastik, atau bubble warp kemasan akan kita buang.
Why? Kita mau permen tapi ngga mau bungkusnya. Namun kita juga ngga mau nerima permen yang ngga berbungkus. Begitu juga paketan yang ngga ada bungkusnya kita ngga mau terima. Maunya paketan yang dibungkus rapat dan rapi. Kalau ngga dibungkus katanya ngga layak, ngga sopan, ngga rapi, atau isinya ngga terjamin kualitasnya (and other reasons maybe).
Jadi kalau mau permen atau paketan lebih suka yang ada bungkusnya kan?
Begitu juga Allah saat mengirimkan rizki atau kenikmatan ke kita. Tentunya Allah pengen kasih ke kita secara spesial. Terbungkus rapi agar lebih indah, lebih nikmat, dan lebih membuat kita penasaran dengan isinya. Terbungkus dengan apa? Tentunya terbungkus dengan sesuatu yang terkadang kita rasa tidak membutuhkannya atau sesuatu yang tidak kita sukai. Seperti cobaan, persoalan hidup, dan
Man yuridillahu bihi khoiron yushib minhu
Siapa yang ingin diberikan kebaikan oleh Allah, akan diberi musibah terlebih dahulu
(H.R Bukhori Muslim)
Selalu percaya bahwa dibalik sesuatu yang tidak kita sukai ada sesuatu yang indah. Bukankah Allah sudah berjanji dalam firman-Nya bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan (QS. Al-Insyiroh: 5-6), Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kekuatan hambanya (Al-Baqarah: 286), dan Allah akan memberikan kabar gembira pada orang-orang yang bersabar (Al-Baqarah: 155).
So, saat kita dihadapkan cobaan, musibah, persoalan kita harus bersabar dan ikhlas ya gaes. Jangan terlalu bersedih. Anggap aja kayak kita nerima paketan atau mau makan permen. Itu hanya bungkusnya, kita tunggu isi atau permennya :)
Kau tau? Tak ada manusia yang menyukai
ujian. Tapi semua orang menyukai naik kelas. Saat kau diuji kehilangan harta,
orang tercinta, kepercayaan diri, atau kehilangan hal-hal yang kau sukai,
mungkin kau tak akan suka. Down atau mungkin depresi sering terjadi pada mereka
yang tak percaya akan ada pelangi yang indah dibalik hujan. Sedihlah
sewajarnya, menangislah sampai amarahmu mereda. Setelah itu, bangkitlah! Karena
Tuhan akan melahirkanmu menjadi pribadi dengan hati sekuat baja.
Semua terasa semakin sulit. Ah tidak! Itu
hanya emosimu saat ini. Waktu pasti akan menghapus semua luka lara. Dan ini
adalah cara Tuhan mengajarimu untuk menjadi lebih baik kedepannya. Niatkan
untuk beribadah. So, semua akan terasa lebih indah.
Ujian adalah cara Tuhan membawamu naik kelas
Kamis, 8 Nopember 2012. Di hari itu aku mendapatkan pengalaman baru. Pengalaman yang belum pernah kudapat sebelumnya. Pengalaman pertama berkunjung ke dokter mata. Awalnya takut, tapi bersama ibu membuatku lebih berani.
“At first you make habits but then habits make you”
“Kesehatan. Ketika aku memilikinya, aku tak merasa kalau aku memilikinya. Namun saat kehilangannya, aku tersadar betapa berharganya kesehatan itu.”
