• Home
  • About
  • Writings
    • Poems
    • Prose
    • Quotes
    • Reviews
      • Books
      • Dramas
      • Movies
  • Design
  • Thought
  • Travel
    • Bandung
    • Jepara
    • Kebumen
    • Magelang
    • Yogyakarta
    • Malaysia
  • Teaching Diary
Youtube SoundCloud Linkedin facebook twitter instagram pinterest Email

Zea Mays

Kali ini aku bakaan nulis tentang ketidak-PD anku a.k.a minder. Ya. Jadi kisahnya begini. Udah pernah kan aku bahas tentang usaha aku buat memulai bisnis fashion di pos sebelumnya yang ini. Punya bisnis fashion merupakan salah satu impian aku selain menjadi dosen. Di post sebelumnya itu aku nulis gimana tentang betapa ngga PD nya aku jualan. Aku takut kalo orang ngga puas dengan apa yang aku jual. Ceritanya kemarin itu ada temen aku yang pesen baju ke aku. Terus aku pesenin lah. Setelah aku berkali-kali nyobain beberapa supplier baju adan aku kurang puas dengan entah bahannya, atau jahitannya, atau ada juga ukurannya (pokoknya udah puluhan supplier aku coba dan belum cocok) akhirnya aku menemukan yang menurut aku cukup recommended. Harganya relatif terjangkau, bahannya standar si, tapi jahitannya rapi banget. Terus nih temenku ada yang tertarik tuh buat beli. Pas aku beliin online, ternyata ukurannya ngga sesuai deskripsi. Meskipun ukurannya S, yang harusnya panjangnya 130 cm itu panjangnya lebih sekitar 135 cm an. Duh gimana dong? Pikirku. Nanti kalo temen aku komplain gimana, terus kalo dia nyesel beli gamis aku gimana? pokoknya berbagai kemungkinan muncul di pikiran aku. Ah, yaudah coba kirim dulu lah, nanti kalo komplain, aku benerin aja ke penjahit deket rumah sekalian benerin baju aku. Pikirku. Eh pas barang sampe, ternyata dia suka sama gamis aku, bahkan nawarin buat jadi reseller selain dia pake sendiri. Intinya si, jangan minder duluan. lakuin aja dulu. Kalo hasilnya ngga sesuai ekspektasi mah buat pembelajaran ada. Dengan gitu kan kita jadi tau dan buat pembelajaran kita juga kepedapannya.Aku si belajar dari thomas alfa edison, kalo sebenernya ngga ada yang gagal. Gagal itu adalah saat kita memutuskan buat nyerah. Oke?
Share
Tweet
Pin
Share
No comments

DULU kalo aku ditanya ini, aku bakalan jawab “ Wanita karirlah, ngapain udah kuliah tinggi-tinggi kalo ujung-ujungnya cuma di rumah.” Tapi kalo sekarang aku ngga sepenuhnya setuju sama pernyataan itu. Pertama, tingginya pendidikan bukan tolak ukur keberhasilan karir seseorang. Banyak yang lulusan SMP, SMA/SMK namun memiliki karir yang lebih bagus dibandingkan lulusan S1 atau S2. Kayak salah satu menteri kita yang meskipun lulusan SMP tapi kompeten dalam bidangnya. Sometimes pendidikan support karir seseorang namun ngga jarang orang justru mengambil karir yang berbeda dengan bidang pendidikan yang diambilnya. Kedua, kuliah tinggi itu ngga akan percuma karena saat kuliah itulah kita mendapatkan banyak pengalaman, ilmu, dan pendewasaan diri. Punya banyak ilmu dan pengalaman itu ngga akan rugi. Kan Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu.

Bisa dibilang dulu aku belum se-open sekarang. Ketemu sama banyak orang, mendengarkan pemikiran-pemikiran mereka tentang kenapa mereka memilih profesi yang mereka geluti, membuat aku sadar kalo jadi ibu rumah tangga maupun wanita karir itu ngga ada salahnya. Iya lah siapa si yang mau nilai bener atau salah? Wkwk. Dua-duanya sama-sama bener, sama-sama baik. Setiap orang memiliki alasan dan kapasitas yang berbeda-beda. Aku pernah ikut suatu kajian yang menurut aku unik.  Dalam kajian itu panitia mendatangkan narasumber dua orang ibu yang sama-sama memiliki pendidikan yang tinggi (kalo ngga salah yang satunya lulusan S3 terus satunya lagi masih menempuh PhD program) tapi mereka memilih jalan yang beda. Satunya walopun udah S3 tapi ibu itu milih jadi ibu rumah tangga. Membangun peradaban melalui keluarga. Satunya lagi memilih sebagai wanita karir, dengan perjuangannya bersama suami berbagi tugas mengurus anak dan pekerjaan rumah. Semua pilihan pasti ada konsekuensi. Semua pilihan baik, yang ngga baik adalah saat kita memilih tapi kita ngga siap sama konsekuensinya.

Aku ngga suka saat ada sebuah ungkapan atau status di sosmed dari seorang wanita karir yang merasa lebih dengan merendahkan status ibu rumah tangga, atau sebaliknya ibu rumah tangga yang merasa paling benar dengan pilihannya dan menganggap salah wanita karir dengan dalih menelantarkan anak dan dalil-dalil agama. Semua orang punya condition yang beda-beda, struggle-nya beda, dan kapasitasnya juga beda-beda. Who are you to judge? Keren si liat video ini, tentang gimana ibu rumah tangga dan ibu karir punya kisah perjuangan mereka sendiri-sendiri. 



Jadi ibu rumah tangga atau wanita karir ngga perlu diperdebatkan, ngga perlu dinyinyirin, tapi lebih penting saling mendukung dan memfasilitasi satu sama lain untuk sama-sama mengejar impian mereka. Nggak selamanya anak yang ibunya wanita karir jadi anak ngga bener. Begitu juga sebaliknya, ngga semua anak yang setiap hari ditungguin ibunya jadi keren. Mendidik itu dipengaruhi banyak faktor. Penting tugas kita sebagai orang tua memastikan lingkungan yang baik buat anak. Intinya kembali lagi ke gimana usaha dan apa yang ditanam orang tuanya.

Aku dan saudara-saudara kandungku waktu kecil dirawat tetangga, tapi aku ngga ngerasa tuh kurang perhatian ortu, karena bapak ibuku kerja sama buat tetep berikan kasih sayang mereka ke aku. Bahkan aku sangat bangga dengan profesi ibuku. Sewaktu kecil, aku akan malu kalo aku ngga dapet nilai yang bagus atau peringkat di kelas karena orang tua aku guru. Aku juga terinspirasi dengan kerja keras orang tuaku, perjalanan mereka menyemangatiku buat kerja keras dan jangan nyerah. Dengan ibuku kerja, aku juga merasa perekonomian keluargaku menjadi lebih stabil, bahkan aku bisa mendapatkan pendidikan yang baik sampe S2 full biaya dari ortu.

Begitu pula aku denger cerita tentang seorang ibu rumah tangga yang bener-bener mendidik anaknya sendiri dengan homeschooling. Hasilnya spektakuler luar biasa. Ia bisa mendidik dan mengarahkan anak-anaknya sesuai passion mereka. Mungkin next time kali ya aku bahas kedua sosok ibu yang menurut aku bisa jadi panutan buat para ibu-ibu. Mau jadi ibu rumah tangga atau wanita karir? Tentukan, diskusikan sama suami, dan jalani konsekuensinya sama-sama.

Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Bukan suatu hal yang mudah buat orang tua melepaskan anaknya. Ketika akad nikah, orang tua sudah saatnya melepaskan seorang anak untuk dibimbing orang lain. Aku tau itu bukan hal yang mudah. Selama 23 tahun orang tuaku merawat, membimbing, dan membesarkanku. Mendengar cerita-cerita nya, membesarkanku bukanlah hal yang mudah. Dari mulai aku yang terlahir prematur 7 bulan, rumah sakit yang banjir selutut saat melahirkanku, dan tentang badanku yang ringkih sering sakit-sakitan hingga aku kelas 1 SD. Aku ingat saat aku masih TK. Ibu selalu menungguku di depan kelas, memastikan aku baik-baik saja. Aku tak bisa seperti anak-anak lainnya. Selain karena usiaku yang jauh lebih muda dibandingkan dengan teman-temanku, aku juga sering tidak berangkat sekolah karena sakit. Aku jarang sekali mengikuti kegiatan olahraga atau jalan sehat. Saat tamasya pun aku ngga ikut karena sakit. Pokoknya dulu aku selalu iri dengan teman-temanku yang bisa belajar dan bermain bebas. 

Dapat dibilang aku anak yang sangat semangat buat belajar. Dulu, aku anak yang ngga betahan di rumah. Di usiaku yang masih 4 tahun aku selalu merengek minta sekolah TK karena teman-teman di sekitar rumahku sudah masuk TK tahun itu. Saat ibuku meminta guruku untuk membuatku tinggal di kelas TK lagi dan tidak mendaftarkanku di SD, guru TK ku justru menyarankan untuk mendaftarkanku ke SD. Menurut beliau aku bisa mengikuti pembelajaran seperti anak-anak lainnya tanpa kesulitan. Meskipun secara akademis aku bisa mengikuti, tapi aku masih gampang banget di bohongi. lol. Fyi dulu aku sering di kasih uang saku plus uang buat nabung sama ibu. Ada temenku yang suka bilang uangnya buat barengan nabungnya di dia. Eh akunya mau aja dan uangnya dipake jajan mereka. Ngga ada hubungannya sih.. wkwk.. toh akhirnya orang tuaku memutuskan buat daftarin aku ke SD. Yeay..

Di SD emang sakitku ngga sesering waktu TK. Sampe sekarang. aku ngga tau dulu itu sakit apa. Sejak usia tujuh bulan aku sudah ngerasain sakitnya di Infus dengan tangan di ganjel biar ngga banyak gerak (bayik mana tau kalo dia diinfus). Pas udah TK aku emang ngga sampe dirawat di RS tapi yang aku inget aku ngerasain bolak balik ke RS dan gonta-ganti tempat pengobatan. Di manapun orang tuaku coba buat kesembuhanku. Aku tau betapa besar usaha orang tuaku untuk membuatku sembuh. Aku ingat di sepertiga malam setelah sholat dan berdoa, orang tuaku mengelus ubun-ubun dan pusarku. Membacakan doa dan meniupnya. Itu adalah ritual yang dilakukan mereka setiap malam. Berdoa kepada penciptaku, agar aku diberi kesembuhan. 

Memasuki masa SD dapat dibilang aku sembuh. Meskipun pernah sesekali sakit pilek panas saat pancaroba dan kena cacar pas kelas V SD. Pernah juga disaat ngaji tiba-tiba keluar darah dari hidungku. Meskipun begitu aku tidak pernah merasa sakit. Aku akan pergi main dan mandi di sungai, berangkat ngaji setiap hari, dan TPQ setiap Jumat sore. Dulu aku semangat banget buat ngaji sama sekolah, karena disana aku ketemu banyak teman-temanku. Orang tuaku merasa sangat bersyukur. Ia tak menyangka anak yang dulunya sangat ringkih dan dapat dibilang memiliki harapan hidup yang kecil, kini telah bertumbuh. Mereka sangat bangga kepadaku saat aku bisa menduduki 10 besar kecamatan di hasil ujianku (dulu belum ada UN SD, semua mapel diujikan termasuk agama). Beberapa mata pelajaran aku mendapatkan nilai terbaik di kecamatan. Kepala dinas pendidikan datang saat perpisahanku, memberikan apresiasi dan menceritakan sepenggal tentang perjalanan akademikku. Aku merasa sangat senang karena kulihat orang tuaku sangat bahagia dengan pencapaianku. Berkat bimbingan mereka untuk bangun berdoa dan belajar di sepertiga malam, akhirnya aku bisa lolos SMP terbaik di kabupatenku. Aku selalu senang saat aku bisa melakukan hal-hal yang membuat orang tuaku senang. 

Sejak SMP aku sudah hidup jauh dari orang tua. Aku tinggal di pesantren. Meskipun begitu, hampir setiap minggu orang tuaku menjengukku. Padahal awal dipesantren santri tidak boleh dijenguk ataupun pulang selama 40 hari, orang tuaku tetap saja diam-diam menemuiku di luar sepulang sekolah atau bahkan nekat menemuiku di pesantren, karena waktu itu aku tidak diizinkan untuk membawa alat komunikasi (read HP). Jadi bukan hal yang mudah buat kita janjian ketemu di luar. Kegiatan di sekolah dan di pesantrenku dapat dibilang dua-duanya sangat padat. Aku mengaji sehari 4 kali dan harus setoran hafalan kitab. Belum lagi tugas sekolah yang mengharuskanku sering ke tempat rental komputer yang terkadang sampai larut malam. Saat ujian sekolah aku terkadang melanggar waktu yang dianggarkan pesantren untuk pulang ke rumah. Aselinya kita dijatah pulang sebulan itu 4 hari. Aku sering melanggarnya dan pulang setiap minggu. Alhasil kadang membersihkan kamar mandi menjadi takziranku saat di pesantren. 

Saat SMP aku memang hampir tak pernah sakit, tapi lagi-lagi Allah menguji kami. Saat ujian semester aku selalu pulang dan berangkat dari rumah. Aku ngga di pesantren karena aku ingin waktu belajar dan istirahat lebih banyak. Di pesantren biasanya aku baru selese ngaji antara jam 10 sampe jam 11 an. Dari habis ashar ngaji sampe menjelang maghrib, sholat jamaah terus nyambung habis maghrib, sholat, dan habis isya ngaji lagi. Perjalanan dari rumah ke sekolah aku kurang lebih sejam naik angkutan dua kali. Biasanya di angkutan aku masih sambil belajar.

Kelas VIII SMP aku mengalami kecelakaan cukup parah saat angkutanku ditabrak jib dan masuk ke irigasi. Lima tulang rusukku dan satu tulang dudukku patah. Lagi-lagi orang tuaku di uji dengan rasa takut kehilangan aku. Sebulan setengah aku ngga berangkat sekolah dan menjalani perawatan intensif. Aku hanya bisa berbaring selama sebulan, bahkan memiringkan badanpun tak bisa. Badanku serasa kaku dan pegal. Makan, minum, buang air semua aku lakukan dengan berbaring. Aku merasa hidup itu kayak roda, muter. Aku baru saja bahagia saat aku bisa masuk SMP itu dan mendapatkan juara lomba mewakili SMPku di kabupaten. Aku baru saja mengubah paradigma guru-guruku tentang daerahku yang selalu mereka sebut-sebut sebagai gudang preman. Ditambah lagi teman yang dari daerahku waktu itu dipanggil BK karena kasus pemalakan. Aku baru saja maju ke depan podium saat upacara bersama dengan teman-temanku lainnya menerima penghargaan. Aku ingat sekali pidato kepala sekolah saat itu bahwa kita ngga boleh ngejudge orang dari asal daerahnya, karena ngga semua orang seperti itu. Mungkin akan ada orang yang sibuk mengukir prestasi untuk mengharumkan citra daerah asalnya. Aku senang. Tapi kini, aku hanya bisa berbaring dan menangis setiap malam. Terlebih saat guruku mengungkapkan kemungkinan aku tinggal di kelas. Aku jadi semakin semangat buat sembuh. Aku ngga mau tinggal kelas.

Kajaiban. Itu yang bisa aku katakan. Saat dokter yang menanganiku mengatakan bahwa waktu normal penyembuhan tulang itu 100 hari atau bahkan lebih, hanya sebulan aku merasa sudah sembuh, Aku bisa berjalan tanpa bantuan tongkat dan sebulan setengah aku udah bisa ikut studi tour ke Jakarta. Naik jetcoaster, ontang-anting, kora-kora dan beberapa wahana lainnya. Waktu itu aku bandel, meskipun dilarang tapi tetep aja dilakuin. Pas antri mau naik tornado (di jaman itu tornado jadi wahana paling menantang di dufan), aku ketahuan guruku dan alhasil aku hanya cukup melihat dari bawah dan mendengar cerita teman-temanku tentang keseruan naik tornado.

SMA. Dapat dibilang masa SMA aku memiliki ketahanan tubuh jauh dari rata-rata. Meskipun aku kurang tidur, telat makan, dan banyak kesibukan aku tak pernah sakit, kecuali waktu itu ketika tubuhku merengek lemas tak mampu lagi menompang kebiasan burukku. Ngga ingat makan di tengah kesibukan. Sampe akhirnya aku terserang gejala tifus dan seminggu dirawat di RS. Pas SMA aku menyibukkan diri ikut banyak organisasi seperti PMR, PKS, Rohis, Broadcast, sama redaksi Karisma. Belum lagi tekanan di kelas unggulan yang buat aku minder dan harus belajar lebih kalo ngga mau jadi peringkat terakhir. Lagi-lagi semua perjuangan yang aku lakukan salah satunya karena aku ingin buat mereka bahagia dan semangat kerja buat membiayai sekolahku.

Kuliah. Aku merasa ini puncak gejolak diriku, saat aku merasa cukup dewasa untuk tidak diatur-atur lagi. Aku bisa menentukan arah hidupku sendiri. Salah satunya mengenai pilihan jurusan kuliahku. Orang tuaku ingin agar aku kuliah di PGSD. Padahal aku tak menginginkannya sama sekali. Jurusan itu tak ada dalam list cita-citaku. Cita-cita yang sudah aku tuliskan harus aku rearrange lagi. Aku sering menyalahkan mereka tentang jalan yang aku ambil. Aku sering menangis dan mengurung diri di kamar, menghindari berbicara dengan orang tuaku. Sampai akhirnya setelah kejadian itu, entah dari mana awalnya aku justru semakin dekat dengan ibuku. Aku menjadi lebih terbuka dengannya dan seringkali berdiskusi banyak hal dengannya. Konflik muncul lagi ketika umurku menginjak 20 an. Mereka mulai mengenalkanku dengan beberapa lelaki untuk menjadi pendamping hidupku. Tetapi untuk kali ini mereka lebih membiarkanku memilih pilihanku sendiri yang kini menjadi pendamping dunia akhiratku, InsyaAllah. “Hidupku adalah milikku, dan aku yang akan menjalani dengannya untuk mungkin separuh atau lebih hidupku” itulah salah satu alasan mengapa orang tuaku membiarkanku memilih pendamping hidupku. Aku menikah tepat setelah aku lulus S2. Tepatnya 10 hari setelah aku dinyatakan lulus sidang skripsi. Dari habis lulus SD aku udah hidup jauh dari ortu, nyambung sampai kuliah aku masih hidup jauh dari ortu. Kini sampai lulus kuliah pun aku hidup menjauh lagi untuk mendampingi suami. Waktu berlalu terlalu sangat cepat. Aku berharap aku selalu mendapati mereka dalam keadaan sehat. Terima kasih Bapak Ibu, maafkan aku yang selalu pergi dan belum bisa membalas kebaikan kalian.  


Share
Tweet
Pin
Share
No comments

Beberapa hari yang lalu, aku ikut sebuah acara camp di Bogor (it's not camp actually what you think. no tent, no bonfire, no guitar, no truth and dare). Acara camp ini di hotel Bahtera Pelni. Wuih apa spesialnya camp di hotel? It's so special! bukan cuma senang-senang aja tapi juga belajar banyak. Salah satunya belajar ilmu Paradox of Candy. Apa sih paradox of candy?

Pembicara mengibaratkan. Jika ia mempunyai permen tanpa terbungkus di sakunya. Kemudian ia tawarkan, apakah kita ada yang mau mengambil dan memakannya? Tentu kita ngga mau kan? Siapa sih yang mau makan permen yang udah ngga berbungkus di masukin saku pula. Kan udah ngga bersih, ngga higienis. That's some reasons I've heard.

Pembicara kemudian mengeluarkan sebuah permen yang berbungkus rapi dari saku yang lain. Ia kemudian menawarkan kita untuk memilih permen yang berbungkus atau yang tanpa bungkus. Tentu kita bakalan milih yang berbungkus rapi kan ya? Kenapa? Bukannya yang kita butuhkan permennya. Toh saat kita makan, kita hanya makan permen dan bungkusnya dibuang. Bukannya kita dimudahkan ngga usah buang-buang tenaga buat ngeluarin permen dari bungkusnya?

Begitu juga saat kita belanja di online shop. Bisa jadi kita akan marah dengan si pengirim jika barang yang kita beli diantar tanpa ada kemasan. Namun kita akan merasa puas jika barang kita dikirim dengan packaging yang rapi plus free bubble warp. Walaupun nantinya kardus, plastik, atau bubble warp kemasan akan kita buang.

Why? Kita mau permen tapi ngga mau bungkusnya. Namun kita juga ngga mau nerima permen yang ngga berbungkus. Begitu juga paketan yang ngga ada bungkusnya kita ngga mau terima. Maunya paketan yang dibungkus rapat dan rapi. Kalau ngga dibungkus katanya ngga layak, ngga sopan, ngga rapi, atau isinya ngga terjamin kualitasnya (and other reasons maybe).

Jadi kalau mau permen atau paketan lebih suka yang ada bungkusnya kan?

Begitu juga Allah saat mengirimkan rizki atau kenikmatan ke kita. Tentunya Allah pengen kasih ke kita secara spesial. Terbungkus rapi agar lebih indah, lebih nikmat, dan lebih membuat kita penasaran dengan isinya. Terbungkus dengan apa? Tentunya terbungkus dengan sesuatu yang terkadang kita rasa tidak membutuhkannya atau sesuatu yang tidak kita sukai. Seperti cobaan, persoalan hidup,  dan kesulitan, tantangan (anggap aja kesulitan sebagai tantangan, karena sesuatu ngga ada yang sulit).

Man yuridillahu bihi khoiron yushib minhu
Siapa yang ingin diberikan kebaikan oleh Allah, akan diberi musibah terlebih dahulu
(H.R Bukhori Muslim)

Selalu percaya bahwa dibalik sesuatu yang tidak kita sukai ada sesuatu yang indah. Bukankah Allah sudah berjanji dalam firman-Nya bahwa dibalik kesulitan ada kemudahan (QS. Al-Insyiroh: 5-6), Allah tidak akan memberikan cobaan melebihi kekuatan hambanya (Al-Baqarah: 286), dan Allah akan memberikan kabar gembira pada orang-orang yang bersabar (Al-Baqarah: 155). 

So, saat kita dihadapkan cobaan, musibah, persoalan kita harus bersabar dan ikhlas ya gaes. Jangan terlalu bersedih. Anggap aja kayak kita nerima paketan atau mau makan permen. Itu hanya bungkusnya, kita tunggu isi atau permennya :)

Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kau tau? Tak ada manusia yang menyukai ujian. Tapi semua orang menyukai naik kelas. Saat kau diuji kehilangan harta, orang tercinta, kepercayaan diri, atau kehilangan hal-hal yang kau sukai, mungkin kau tak akan suka. Down atau mungkin depresi sering terjadi pada mereka yang tak percaya akan ada pelangi yang indah dibalik hujan. Sedihlah sewajarnya, menangislah sampai amarahmu mereda. Setelah itu, bangkitlah! Karena Tuhan akan melahirkanmu menjadi pribadi dengan hati sekuat baja. 


Semua terasa semakin sulit. Ah tidak! Itu hanya emosimu saat ini. Waktu pasti akan menghapus semua luka lara. Dan ini adalah cara Tuhan mengajarimu untuk menjadi lebih baik kedepannya. Niatkan untuk beribadah. So, semua akan terasa lebih indah. 

Ujian adalah cara Tuhan membawamu naik kelas
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Kamis, 8 Nopember 2012. Di hari itu aku mendapatkan pengalaman baru. Pengalaman yang belum pernah kudapat sebelumnya. Pengalaman pertama berkunjung ke dokter mata. Awalnya takut, tapi bersama ibu membuatku lebih berani.
Kelas satu SMA aku mulai mendapat banyak tugas yang memaksaku berkutat  berjam-jam di depan layar monitor. Tak hanya sejam dua jam. Sehari penuh di depan monitorpun aku pernah merasakannya. Saat itu adalah masa-masa semangatku yang berapi-api. Masa-masa awalku di sebuah sekolah yang aku inginkan. Tugas sekolah dan tugas organisasi yang banyak tak pernah ku keluhkan.
 Efek radiasi laptop sungguh cepat terasa. Kepalaku menjadi sering sakit dan mataku menjadi cepat  lelah. Kadang terbesit pertanyaan “Ada apa dengan mataku?” pertanyaan itu terjawab  saat aku meminta surat keterangan sehat di puskesmas untuk persyaratan pendaftaran salah satu kampus. Saat itu aku baru saja lulus SMA. Sebuah pertanyaan terlontar dari bibir sang Dokter saat aku tak bisa membaca huruf dengan ukuran yang ia pilihkan dengan mata kananku tertutup. “Apa anda sering mengalami sakit kepala?” Tanya beliau“Iya dok.” Jawabku singkat. Kemudian sang Dokter pun menjelaskan bahwa mata kiriku cylinder dan beliau menyarankanku untuk mengenakan kacamata.
Aku tak terlalu ambil pusing dengan masalah cylinder itu.  Toh aku masih bisa melihat normal seperti biasa. Hanya mata kiriku yang cylinder . Itupun masih kecil. Aktivitas berjam-jam di depan laptop terus menjadi rutinitas. Sampai suatu saat, ada acara donor darah di kampus. Entah bagaimana awalnya, saat donor,  bapak yang bertugas mengecek persyaratan berbicara mengenai penyakit mata. Iseng-iseng aku tanya mengenai cylinder. Bapak itu menjelaskan tentang cylinder yang membuatku takut. Sejak kejadian itu, kebiasaan-kebiaasaan burukku sedikit demi sedikit mulai aku kurangi. Kebiasaan berlama-lama menatap monitor aku kurangi.  Begitu juga memandangi layar HP. Kebiasaan membaca sambil tiduran juga mulai aku kurangi, mencoba sedikit demi sedikit menghilangkan kebiasaan itu. Kalau udah menjadi kebiasaan memang sulit dihilangkan.


“At first you make habits but then habits make you”


Selain mengurangi kebiasaan buruk, akupun berusaha untuk menanggulangi penambahan cylindris di mataku. Caranya? Ya konsultasi ke dokter mata dan mau pake kacamata. Biasakan makan-makanan yang banyak vitamin A, buah, dan sayuran. 
Oh ya pengalaman pertamaku ke rumah sakit mata. Awalnya takut. Setelah masuk, biasa aja sih. Pertama melangkahkan kaki ke lobi, aku kaget. Kenapa banyak sekali pasien yang mengantri? Ini kan rumah sakit spesialis mata bukan rumah sakit umum. Aku bergegas mengambil nomor antrian dan mengisi formulir. Sambil menunggu dipanggil, iseng-iseng aku melihat ke sekeliling. Beberapa orang memakai kaca mata hitam. Ada juga yang salah satu matanya ditutup dengan benda yangaku tak tau namanya. Ada juga yang periksa karena matanya terkena kaca akibat kecelakaan bus. Ngeri euy.. memang harus bersyukur punya nikmat sehat.
Mata ini milik Allah. Tak hanya mata. Semua yang kita miliki adalah titipan Allah. Allah berhak mengambilnya kapan saja. Tapi mengapa aku takut kehilangan sesuatu yang Allah titipkan? Sejak saat itu, aku sadar. Semua yang aku miliki bukanlah milikku. Semua hanya barang pinjaman. Meminjam berarti bertanggungjawab untuk menjaga. Kalau kita meminjam tanpa menjaga barang yang kita pinjam bukankah akan membuat pemiliknya marah dan mengambilnya?  Aku berharap, aku bisa menjaga semua yang aku pinjam ini.  

“Kesehatan. Ketika aku memilikinya, aku tak merasa kalau aku memilikinya. Namun saat  kehilangannya, aku tersadar betapa berharganya kesehatan itu.”
Share
Tweet
Pin
Share
No comments
Older Posts

HELLO, WELCOME !

HELLO, WELCOME !
24 yo. Elementary School Teacher Education.

Follow Us

  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • pinterest
  • youtube

Instagram

@Izzahmysr

Blog Archive

  • ▼  2021 (1)
    • ▼  Oktober 2021 (1)
      • About Me
  • ►  2019 (37)
    • ►  April 2019 (2)
    • ►  Maret 2019 (8)
    • ►  Februari 2019 (17)
    • ►  Januari 2019 (10)
  • ►  2018 (2)
    • ►  Desember 2018 (2)
  • ►  2017 (4)
    • ►  Oktober 2017 (4)
  • ►  2012 (20)
    • ►  Desember 2012 (11)
    • ►  November 2012 (9)

Label

  • Education (2)
  • English (6)
  • Islam (1)
  • Perjalanan Menuju Senja (4)
  • Somewhere Out There (11)
  • Teaching Diary (17)
  • Thought (6)
Diberdayakan oleh Blogger.

Popular Posts

  • Kepakkan Sayap Malaikat Maut
  • An Inspiring Korean Drama: Jewel In The Palace
  • About Me
  • About Me
  • A Crazy Little Thing Called Love

Pengikut

Created with by ThemeXpose